Dua Gelas Susu Coklat

Sunday, 5 February 2012

Dulu saat aku masih duduk di bangku sekolah, saat aku selalu pulang ke rumah setelah selesai berkutat dengan segala pelajaran di sekolah, aku selalu melakukan sebuah tugas yang lama kelamaan menjadi satu kebiasaan bagiku. Aku bahkan selalu menyenangi tugasku ini. Bila sudah melaksanakannya, ada kebahagiaan tersendiri bagiku. Apalagi saat melihat dua orang yang saya cintai sepanjang hidup saya itu, duduk sambil menikmatinya.

Setiap hari di setiap pagi aku selalu membuat segelas susu coklat untuk mereka. Ibu dan Papa. Bukan susu coklat biasa, kebetulan yang harus mereka berdua minum adalah susu untuk tulang, lebih tepatnya untuk mencegah osteoporosis. Susu bubuk untuk usia 50 tahun keatas. Ibuku terutama, beliau sangat menyukainya. Karena menurut beliau, setelah minum susu itu, beliau akan jauh merasa lebih kuat dan bertenaga, serta tidak gampang merasa lelah. Bila tidak meminumnya, pasti Ibu dan Papa setelah melakukan aktivitas, mereka akan merasa sakit. Aku selalu perhatikan waktu minum susu mereka berdua.

Setiap pagi dan sore, saya selalu buatkan dua gelas susu coklat untuk Ibu dan Papa. Terkadang saya terlambat membuatnya, tapi sebisa mungkin saya usahakan untuk mereka harus selalu meminum susu coklat itu. Bahagia rasanya, setidaknya ini salahsatu jalanku untuk membalas setiap tetes keringat mereka. Ibu dan Papa lebih suka susu yang agak kental. Makanya, aku hanya beri dua sendok teh susu bubuk, satu sachet gula berkalori rendah, tuangkan air panas setengah gelas dan aduk. Sesederhana itu.


Setelah lulus SMA, aku melanjutkan pendidikan di salahsatu universitas negeri di Makassar, Sulawesi Selatan, dan sejak itu aku absen melakukan kebiasaanku ini. Aku sempat kepikiran. Bagaimana tidak, aku yang selalu menyediakan segelas susu untuk Ibu dan Papa, aku yang selalu berusaha memperhatikan waktu minum mereka. Aku hanya ingin Ibu dan Papaku kuat dan tetap sehat. Sesederhana itu inginku. Maka itu, saat libur bulan ramadhan tiba, aku pasti pulang, kembali ke rumah. Setiap sahur, aku tak pernah lupa menyediakan susu coklat untuk mereka berdua. Bila susu coklat yang khusus untuk Ibu dan Papa sudah siap di meja makan, barulah aku akan membuat susu coklat lain untukku dan kakak-kakakku. Memang, kebiasaan keluargaku setiap sahur adalah minum susu coklat.

Aku merindukan setiap pagi dan sore, kala aku selalu menyiapkan segelas susu coklat untuk mereka. Untuk Ibu dan Papa. Bila aku pulang nanti, Bu..Pa, jangan khawatir. Akan kubuatkan lagi dua gelas susu coklat penuh cinta untuk kalian berdua. Untuk kalian, Bu..Pa :*

4 comments:

  1. Wah.. Makasih, kak tyar :)

  1. Anazkia said...:

    Dek, berarti Bang Al itu bukan kakak sebenar, yah? Soale kan bang Al sukanya minum kopo

    #halagh, dikeplak sendal sama Bang Al kalau baca komentar ini
    #ngumpet

  1. Ahahaha :D
    Sebenarnya, Bang Al itu bukan kakak kandungku, mbak. Tapi berhubung unhy gak punya kakak cowok, jadi tarik Bang Al saja deh untuk jadi kakak. Kalo ada yg macam-macam sama unhy, Bang Al bisa hajar tuh org. Ada gunanya, Mbak. heheheheh :D

    #bantu cariin t4 ngumpet tuk mbak Anaz :D

Post a Comment