Benang Kusut di Kepala #2

Wednesday, 11 July 2018
Beberapa waktu ini ada beberapa hal yang sungguh mengganggu diri saya. Apa saja?
Saya ingin membaginya kepada teman-teman lewat tulisan ini, barangkali benang kusut kita sama, bila berjumpa satu waktu, mari kita bicara tentang hal ini. Saya percaya salahsatu cara menyembuhkan diri sendiri adalah dengan bertukar cerita.

Benang kusut pertama adalah body shaming. Lagi marak banget isu ini, iya kan? Saya pernah mengalami hal ini, sekedar mencairkan suasana atau basa basi saat pertama ketemu, seorang kenalan saya mengomentari tentang kekurangan fisik saya, saat itu kalimatnya “Unhy makin besar ya?”, awalnya saya menanggapinya dengan santai, lama kelamaan ternyata beberapa teman saya suka basa basi dengan hal itu. Entah alasannya karena memang saya terlihat besar dalam artian gemuk atau hanya sekedar basa basi belaka demi mencairkan suasana saat nongkrong. Saya mulai merasa benar-benar terganggu ketika salah seorang kenalan yg saat itu bisa dihitung baru dua kali kami bertemu dan saat pertemuan kedua kami kalimat yg dia lontarkan ketika melihat saya datang adalah kalimat itu. Dari sekian banyak kalimat bercandaan atau sekedar basa basi yang bisa dilontarkan, kenapa harus menyerang fisik orang lain sih? Sejak itu saya benar-benar risih. Sejak itu pula bila ada orang yang mengomentari kekurangan fisik saya, saya memilih untuk tetap santai saja dan berjanji dalam hati kalimat-kalimat itu tidak akan saya lontarkan kepada orang lain.

Efeknya apa pada saya? Awalnya saya benar-benar tidak percaya diri. Ketika berpakaian pun saya memilih baju yang bisa menutupi kegemukan badan saya. Jujur hal ini saya lakukan. Ternyata saya capek untuk terlihat sempurna di depan orang lain. Lantas belakangan ini saya memutuskan untuk lebih percaya diri lagi. Saya hilangkan pikiran-pikiran negatif akibat perkataan negatif dari mulut-mulut orang lain. Saya merasa orang lain tak berhak membuat saya merasa kerdil terhadap diri saya sendiri. Mereka tak punya hak mengontrol bagaimana saya harus terlihat di depan orang lain dan saya tidak punya kewajiban untuk menyenangkan orang lain. Saya memilih untuk menganggap perkataan negatif mereka terhadap kekurangan fisik saya adalah suatu perkataan yang datang dari mulut orang-orang yang berpikiran dangkal.
Baiknya sebelum mengomentari kekurangan orang lain, lihat dulu kekurangan apa yg kita miliki. Alangkah bagusnya bila mengomentari kekurangan fisik orang lain, pastikan terlebih dahulu dirimu sempurna. Walaupun sekedar basa basi belaka atau bercanda kelewat batas tapi efeknya sangat besar terhadap diri seseorang, bayangkan efeknya ke kepercayaan diri. Bisa jadi lebih parahnya lagi seseorang menjadi minder berlebihan dan tidak ingin bersosialisasi karena menganggap lingkungannya tidak bisa menerima kekurangan dirinya. Jadi hati-hati ya teman-teman, kadang kita bercanda suka kelewatan, memang lucu, suasana nongkrong jadi lebih nyaman tapi ingat kita tidak pernah tahu seberapa besar dampak bercandaan kita pada orang lain. Pandai-pandai memilih kalimat yang positif, kalau yang dikatakan positif kan untungnya bukan hanya untuk mereka yg mendengar, tapi untuk kita juga. Kita jadi lebih memiliki pengaruh positif untuk orang lain dan diri sendiri. Diri sendiri ini poin pentingnya. 

Benang kusut kedua adalah persoalan seberapa perlunya kita untuk melihat kedalam diri sendiri. Nah ini yang paling sering kita lupakan, tak kita hiraukan, padahal ini paling penting paling kita butuh dan yang harus selalu kita lakukan. Melihat kedalam diri kita. Jangan mau kehilangan diri kita dengan kehadiran orang lain, bahkan jangan sekali-kali kehilangan diri kita setelah dilukai orang lain. Tanamkan dalam diri “orang lain tak berhak mengambil porsi begitu banyak dalam diri kita sendiri.”

Contoh kecil dalam hubungan asmara misalnya, ketika ditinggalkan beberapa orang merasa lebih bahagia bila bersikap seolah-olah mereka berada di pihak yg tersakiti. Tanpa duduk melihat, merenung dan lebih berpikir lagi kenapa bisa menjadi luka akhirnya? Memang sebagian kita susah untuk melihat lebih dalam ke diri sendiri. Tak jadi soal sebenarnya, itu adalah bagian dari strategi pertahanan diri. Dengan begitu mereka akan lebih cepat bahagia dan menyembuhkan luka. Tapi jangan lupa, MELIHAT KE DALAM DIRI SENDIRI ADALAH KOENTJI. Usahakan lebih jeli melihat kesalahan diri sendiri terlebih dahulu. Dengan begitu, kesalahan di masa depan bisa diminimalisir. Manusia hakikatnya belajar, bila mengulangi kesalahan yg sama lagi artinya mereka sendiri senang menoreh luka di badan sendiri.
Menoreh luka di badan sendiri, jangan mau seperti ini. Kau akan merasa perihnya 10x lipat dibanding dilukai oleh orang lain. Jangan bodoh juga karena melukai diri sendiri, apalagi dengan hal-hal yang sebenarnya bisa dipelajari dari masa lalu. Jangan menyakiti, jangan merugikan diri sendiri. Jangan menjadi bodoh. Paling penting mau mengakui bahwa kita mengambil andil dalam luka yang orang lain torehkan, iya ini yang penting menurutku. Saya juga sering seperti ini, sering mengingkari bahwa orang lain menyakiti saya murni karena mereka jahat dan kejam pada saya, tanpa saya menyadari bahwa saya juga ambil andil dalam luka yang berhasil mereka beri kepada saya. Sikap emosian, kadang arogan, keras kepala dan sikap-sikap lainnya yang ternyata tak bisa mereka terima ibarat menjadi minyak bagi mereka untuk menyulut api membakar saya. Dengan mengakui hal ini, saya belajar banyak. Penerimaan diri adalah hal utama dalam menjalin hubungan asmara , hubungan sosial dengan orang lain. Menerima dan mau melihat ke diri sendiri sebenarnya kita kenapa dan harus bagaimana. Beberapa waktu ini saya menjadi senang ke tempat-tempat yang membuat saya merasa tenang dan nyaman sendirian. Padahal dulunya semasa SMA sampai kuliah semester 5 saya adalah pribadi yang tak bisa sendiri, dalam artian saya tidak menyukai kesunyian, saya lebih senang bertemu teman-teman, ngumpul dan ngobrolin apa saja. Tapi beberapa waktu belakangan ini saya menjadi pribadi yang senang dengan kesunyian dan ketenangan, saya memilih duduk di pojokan dengan membawa laptop atau buku yang sedang saya baca di coffee shop, duduk berjam-jam dan berkutat dengan diri saya sendiri.

Banyak yang saya pikirkan saat itu, antara lain mau jadi apa saya? Apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup? Apa yang benar-benar saya butuhkan dalam hidup? Kenapa dia dulu memilih meninggalkan saya? Bahkan sampai ke pertanyaan apakah seorang Ian adalah lelaki yg tepat bagi saya?  Saya sampai ke pertanyaan-pertanyaan itu. Dari situ banyak yang saya simpulkan,banyak pula yang tidak bisa saya simpulkan. Namun yang pasti saya sadar, melihat kedalam diri sendiri adalah sebuah keharusan.

Benang kusut ketiga adalah persoalan istirahat. Istirahat dari apa? Dari segala yang melelahkanmu, dari segala yang menguras pikiranmu. Terkadang kita suka lupa diri dan bertingkah berlebihan tanpa memikirkan apakah yang kita lakukan baik untuk diri sendiri atau tidak, apakah yang kita lakukan tidak merusak harga diri atau tidak.  Seringkali kita lupa kalau orang lain punya mata dan mulut untuk melihat dan berbicara tentang diri kita. Bukan karena mereka iri dengan diri kita, hanya saja percayalah terkadang kita butuh mulut orang lain untuk membuat kita mau melihat kedalam diri kita.

Perihal ini saya bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang mau berbicara apa adanya, yang tak segan menegur dengan keras bila menurut mereka hal yang saya lakukan adalah salah. Mereka akan dengan keras menegur saya. Saya bersyukur memiliki lingkaran pertemanan yang tidak hanya mampu berkata manis, melainkan mampu juga berkata pahit kepada saya. Bila kau  berada di lingkaran pertemanan sehat seperti ini, syukuri dan pertahankan.

Itulah beberapa benang kusut di kepala saya, bagaimana dengan benang kusut di kepalamu?

Ambon, 11 Juli 2018.



Papa

Monday, 23 April 2018
Sore ini saya mengingat semua yg pernah papa saya lakukan untuk saya. Saya mengingatnya satu persatu dan menemukan begitu banyak kebaikan papa kpd anaknya ini. Sedangkan saya? Kebaikanku pada papa msh jauh dari yang bisa dihitung. Tak ada apa-apanya. Satupun tak ada.

Papa adalah orang terbaik yang keberadaannya dalam hidup ini tidak akan pernah saya sesali sedikitpun. Papa adalah sosok ayah yang paling bisa mengontrol emosi didepan anak-anaknya, yang paling sabar, yang selalu berusaha mewujudkan semua keinginan anak-anaknya tercapai, semua kebutuhan anak-anaknya beliau terpenuhi walaupun seringkali harus sembunyi-sembunyi dari Ibu tapi Papa selalu mengusahakannya karena tidak mau mengecewakan putri-putrinya. Setiap kali saya menitipkan jajan ketika beliau sedang pergi, misalnya, papa akan berjalan ke arah samping rumah, memanggil namaku di bawah jendela kamar dan memberi sekantong jajan yang saya minta, dengan cara begitu ibu takkan memarahiku karena selalu saja jajan. Papa yang akan selalu mengirim pesan singkat menyemangatiku tiap kali saya akan mengikuti kegiatan dari jaman sekolah sampai kuliah dan tetap menjadi yg pertama memberikan selamat setiap kali saya berhasil menyelesaikan kegiatan, perlombaan dll. Saya akan menemukan "Papa bangga deng ade" di layar hp saya yang beberapa menit setelah itu akan kudengar suara papa diujung sana.

Papa adalah orang yang akan datang ketika mendapatkan kabar dari sekolah ketika anaknya ini pingsan karena cuaca terlalu dingin saat itu, Papa yang akan selalu menemani anak bungsunya ini belajar sampai malam atau menonton film kesukaan anaknya, walaupun terkadang Papa akan tidur duluan di kursi. Papa yang hampir setiap malam minggu akan mengajak saya pergi makan coto makassar atau es palu butung di daerah Masjid Jami' tempat langganan kita berdua. Papa yang selalu membelikan benda-benda lucu berwarna ungu atau membelikan alat tulis menulis yang lucu karena tahu betul anak bungsunya ini mengoleksi benda-benda seperti itu saat duduk di bangku sekolah dasar dulu.

Papa yang ketika saya sakit, akan selalu datang ke kamar melihat keadaanku, membaca shalawat dan mengelus daerah yang sakit. Siapa yg kotak obatnya paling lengkap? Siapa yg kalau anaknya sakit sedikit sudah buka kotak obat kasi minum obat panadol, bodrexyn, promag dan lain lain? Papa. Ya, Papa.

Papa yang ketika pertama kali saya jauh dari rumah, pertama kali saya melempar mimpi di kota orang beliau mengantar dengan wajah penuh senyum dan selalu mengingatkan untuk tetap jaga sholat dan makan. Papa yang bila saya telepon untuk meminta izin ke luar daerah, hal pertama yg beliau tanya adalah "Disana dingin nak?," karena beliau tahu betul bagaimana tubuh saya bereaksi berlebihan terhadap udara dingin.  Pertanyaan itu akan diikuti dengan seabrek list yg beliau ingatkan untuk bisa mengatasi kelemahan saya dalam menghadapi udara dingin.

Papa yang ketika saya kecelakaan dan kaki kiri saya tidak bisa digerakkan, yang saat itu harus dibantu dengan tongkat, Papa adalah orang yg menemani saya berobat bahkan ikut menangis ketika kaki kiri saya yang kaku itu dipijit dan saya berteriak kesakitan, tangan Papa yang saya genggam. Papa yang ketika saya ingin buang air besar tengah malam, saya hanya perlu menelpon sekali dua kali dering saja, beliau akan bangun dan berdiri di depan kamar menunggu saya keluar dan membantu saya berjalan menuju toilet dengan susah payah dan selalu bertanya dari luar "Ade bisa nak? Kaki bisa sayang?" saya akan menjawab bahwa bisa, tapi beliau akan kembali bertanya semenit sekali dengan pertanyaan yang sama.
Kesabaran beliau adalah perwujudan kata cinta dan kasih sayang yang jarang beliau ungkapkan, tapi terpancar begitu jelas dari setiap senyum, dari mata berbinar-binar ketika mendengar cerita anak-anaknya dan yg dengan sabar mendengar dan menghadapi keluh kesah anak-anaknya terutama saya.

Papa, yang selalu duduk di depan rumah menunggu saya pulang, yang selalu jago dan enak membuat colo-colo (sambal khas ambon, pakai lemon cina, tomat, cili dan bawang merah serta sedikit air) saat saya ingin makan. Papa yang selalu ke kamar menunggu saya bercerita tentang hari-hari saya, menunggu cerita-cerita saya tentang apapun itu walaupun sebelumnya sudah beliau dengar tapi beliau tetap meminta saya untuk menceritakan kembali dan selalu antusias dan senyum tiap kali mendengar saya bercerita. Begitulah pria yang bergelar Papa, kata pertama yg bisa saya sebut begitu mulut, lidah dan otak saya bekerjasama mengenal dan menangkap informasi di sekeliling saya.

Beberapa waktu ini Papa sakit. Saat pertama kali mengetahuinya, hati saya begitu sakit. Setibanya di rumah, saya melihat Papa saya berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Tak sekuat dulu, tapi tetap bisa menemukan senyum di wajahnya, tidak berkomunikasi seperti dulu tapi beliau tetap menyimak ketika saya berbicara, terkadang tak mengenaliku, tapi saya yang akan selalu mengingatkan beliau, tak apa. Jauh di alam pikirnya, saya tahu beliau mengenal saya lebih dari siapapun mengenal saya.

"Jangan sakit Pa", ingin rasanya saya berkata seperti itu tapi sakitpun adalah rejeki dari Sang Pemilik Kehidupan. Ketika saya mengantar beliau ke kamar tiap malam, Papa akan memandangku lama dan berkata "Maaf papa merepotkan unhy" atau "ini unhy toh? Papa pung anak." Buru-buru saya akan menyeka airmata yg sudah ada diujung pelupuk mata. Bagaimana bisa Papa bilang merepotkanku ketika anakmu ini yang terlebih dahulu sudah banyak merepotkanmu,  Papa? Sungguh sedikitpun menjagamu tidak ada arti apa-apa, tidak bisa membalas sedikitpun perhatian dan penjagaanmu selama ini Pa.

Maka, sehat-sehatlah Pa. Tak ada satupun orang di muka bumi ini yang paling anakmu mau kesehatannya kesembuhannya, selain dirimu, Pa. Sehat-sehatlah kedua surgaku, Papa dan Ibu. Sehat-sehatlah, sungguh Allah Maha Penyembuh, hanya padaNya semua ikhtiar kami untuk kesembuhan Papa, untuk kesehatan Ibu. Sakit datangnya dariNya, maka penawarnya dariNya jua.

Ade sayang Papa ❤

Yang selalu memohon kesembuhanmu dan mencintaimu, putri bungsumu.

To: My Dearest Aga

Sunday, 4 March 2018
Dear Aga,
cara Allah menjawab setiap doa siapa yang tahu? Jika bukan hari ini, besok. Jika bukan besok, lusa. Jika bukan lusa, minggu depan atau bulan depan atau tahun depan. Waktu baik menurut Allah, siapa yang bisa terka?

Sedihmu, lukamu hari ini tentu akan dibalas dengan bahagia di kemudian hari. Begitu caraNya menyayangi, kita bisa apa selain tetap berikhtiar.

Satu waktu baik tiba bagimu, lelaki paling baik yang Allah simpankan untukmu sedang menujumu dengan kepastian. Senyummu akan menjadi penghias langit cerah. Sepasang tangan akan mulai bergenggaman, dua hati akan mulai menyatu sampai kelak, kelak diguncangkannya Arsy', kelak malaikat-malaikat di langit turun menyaksikan sepasang hati mengikat janji suci. Maka sampai waktu itu, berbahagialah.

Selamat menerima hati yang baik, genggaman yg kelak akan menguatkan, akan menopang hidupmu selamanya. Selamat menuju waktu baikmu. Banyak cinta dan doa tulus dari adikmu ini untuk kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, selamanya, adikmu ini selalu mendoakannya. Maka, tak perlu khawatir, kau takkan kekurangan sedikitpun doa. Kau mengantongi banyak doa dariku, Aga.

Selamat kakakku, my one and only Aga, the best sister I've ever had. You know I love you even I ignore to tell you about that.
I can't imagine if you were not my sister, my world would not be perfect like this. You're more than the word "sister" for me. Am very very happy and blessed that I have you. From this time, happily ever for a long time 😚

With love and hugs,
your forever lil sister, Unhay 💜💜💜

Benang Kusut di Kepala

Thursday, 21 September 2017
http://artimimpi.me

Tulisan ini datang dari obrolan menyenangkan ketika bertemu dengan dua sahabat terbaik saya. Mengobrol banyak hal yg menyenangkan pun bermanfaat ternyata adalah upaya membersihkan isi kepala. Ibarat menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Bertukar banyak hal, banyak cerita yang lama barangkali hanya menjadi pemikiran dan pemahaman diri sendiri, yang semua itu kemudian menjadi benang kusut di kepala saya. Iya kepala saya sendiri ini adalah benang kusut untuk segala hal yg saya amati dan yang saya pikirkan sendiri. 

Benang kusut pertama adalah persoalan menikah. Memasuki kepala dua dan telah menyelesaikan studi, pertanyaan yang muncul kemudian adalah “kapan nikah?” atau “kapan nikah? Kan udah pacaran lama kok belum dihalalin? “ dan beberapa kalimat lainnya yg dipanjangkan atau dipendekkan tapi tidak mengurangi sedikitpun intinya. Saya hanya akan menjawab “insyallah tahun depan, saling doa aja” sembari senyum. Itu jawaban paling aman menurutku karena isinya juga berupa doa, iya tahun depan, semoga, barangkali saat jawab begitu langit terbuka dan diijabah sama Pemilik Semesta. Amin 

Dalam hidup yang singkat ini, saya termasuk orang yang selalu berusaha sederhana dalam segala hal. Termasuk mengenai pasangan hidup. Kriteria tak muluk-muluk, selama baik agama dan akhlaknya, yuk Bismillah 

Selama dia mau mengimbangi cerewetku dengan kedua telinganya yang senantiasa mau mendengar, yuk. Menyadari diri ini lebih banyak menggunakan mulut, maka yang kubutuhkan adalah dia yang sedikit lebih banyak menggunakan telinganya. Dia yang mau mengimbangi dan menjaga ritme komunikasi, yuk. Dia yang mau sama-sama membiasakan hidup berdua, yang mau rambut mulai memutih bersama sambil menunggu kepulangan anak-anak setelah mereka merantau nanti, yang mau menghabiskan susu coklat hangat bersama tiap sore sembari melihat cucu-cucu kita berlarian di pekarangan rumah kelak, yuk. Dia yang mau selalu mengerjakan kata kerja “mencintai” , yuk. Saya mendapat satu kutipan bagus dari seorang teman dekat, dia bilang “Dalam hubungan bukan masalah dicintai dan mencintai, tapi tentang mencintai dan mencintai”. Dia yang ingin bertukar cerita tentang aktivitas seharian sebelum tidur, yuk. Kita hidup bersama, yuk. 

Kadang pikiranku sampai di titik bagaimana waktu dapat menjaga cinta diantara dua insan yang saling mencintai? Mampukah? Kemudian kujawab dengan pemikiran bahwa waktu tidak bisa menjamin segalanya, waktu mampu merubah segalanya termasuk janji. Maka barangkali yang perlu dilakukan adalah kebiasan konsisten. Konsisten terhadap apa yang menjadi pilihan. 

Benang kusut kedua adalah tentang tanggapan orang lain terhadap pribadiku dan tanggapanku terhadap mereka.  Menyadari saya hidup di dunia dimana semua hal dikomentari sama orang lain, entah itu baik atau buruk tetap selalu menimbulkan kalimat-kalimat tambahan dari orang disekitarnya. Saya tidak akan bilang hal ini salah, tidak. Toh semua orang punya mata dan mulut untuk melihat dan mengatakan apapun yang ingin mereka katakan, begitupun saya. Mereka diluar sana berkomentar tentang saya, bisa jadi karena rasa sayang pun benci. Bisa jadi. Semua adalah wajar. Menyadari bahwa komentar2 mereka berasal dari diri saya sendiri yang ingin saya perlihatkan baik itu disengaja maupun tidak. Komentar-komentar itu baik atau buruk sebenarnya adalah bentuk dari proses pendewasaan diri mereka dan saya sendiri. Mereka perlu melihat kembali apakah komentar mereka sudah sesuai atau belum? Bermanfaat atau tidak? Dan saya perlu mem-filter butuh atau tidaknya mendengar komentar-komentar itu. Beberapa diantaranya saya yakini sebagai masukan terbaik bagi saya. Dalam Johari Window yang merupakan sebuah teknik yang digunakan untuk membantu orang lebih memahami hubungan dengan diri dan orang lain yang lebih baik. Salahsatu bagiannya dalah area dimana adalah aspek yang orang lain lihat tetapi kita tidak sadari. Nah barangkali komentar dari mereka adalah bagian dari diri kita yang tidak kita sadari. Nah inilah saat dimana saya butuh orang lain untuk dapat melihat kedalam “saya”. 

Kalau ada yang bilang “kan bukan urusanmu, ngapain ikut campur komentari hidup orang lain bla bla bla”, saya ingin bilang kita hidup di dunia yang telah terbuka. Tidak mau dikomentari ini itu? Jangan main social media, jangan membuka diri ke orang lain, jangan membuka diri ke dunia. Tinggal di dunia antah berantah saja. 

Percaya, kamu butuh mulut orang lain untuk bisa melihat kedalam dirimu sendiri! Selebihnya adalah keputusan diri sendiri untuk mem-filter komentar atau bahasa halusnya masukan-masukan itu. 

Benang kusut ketiga adalah memposisikan diri sendiri. Menurut saya pribadi, orang yang cerdas adalah orang yang pandai memposisikan dengan baik dirinya sendiri. Tahu kapan harus berbicara, kapan harus menyimak, kapan harus marah, kapan harus diam, kapan harus bertindak. Tidak semua pemderitaan orang lain lantas kita harus memposisikan diri kita pada posisi mereka untuk bisa mengerti apa yang tengah terjadi. Cara menyikapi tiap masalah berbeda-beda. Cara saya menyikapi masalah A tentu berbeda dengan cara menyikapi teman saya terhadap masalah A. Karena ada nilai-nilai individu dan sosial yang berbeda antara saya dan teman saya, misalnya. Jadi, tidak semua orang harus memposisikan diri mereka terhadap saya begitupun sebaliknya. Kita tidak berkewajiban untuk itu. 

Itulah beberapa benang kusut di kepala saya, bagaimana dengan benang kusut di kepalamu? 

[REVIEW] TITIK NOL - AGUSTINUS WIBOWO. “Makna Perjalanan, Sebuah Pengungkapan Diri”

Friday, 4 August 2017

“Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa batas. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.”

Awal mengenal seorang Agustinus Wiowo adalah bermula dari melihat cover buku Titik Nol karyanya di toko buku Gramedia. Tertarik dengan warna cover buku dan judulnya inilah, yang membuat saya penasaran “Apa itu Titik Nol? Bercerita tentang apakah buku Agustinus ini?”
Tanpa membuang waktu, singkat cerita saya dipinjami buku ini oleh seorang adik. Sebelumnya, Garis Batas sudah saya lahap duluan, membuat saya tambah yakin bahwasanya karya Agustinus yg lain mutlak saya lahap juga.

Halaman-halaman awal Agustinus menyihir saya dengan kata-katanya “Jauh adalah kata yang mengawali perjalanan. Jauh menawarkan misteri keterasingan, jauh menebarkan aroma bahaya, jauh memproduksi desir petualangan menggoda. Jauh adalah sebuah pertanyaan sekaligus jawaban, jauh adalah sebuah titik tujuan yang penuh teka-teki.

Agustinus Wibowo, mengangkat genre travel writing, membuat saya menjadi suka dengan genre penulisan yang satu ini. Bahasa cerita Agustinus tidak menggurui, tidak sok tahu dengan segala setapak yang telah dia lalui dari satu negara ke negara lain, ke satu batas ke batas lain, dari satu titik ke titik yang lain. Dia jelas-jelas ingin membagi cerita dengan saya, dengan pembacanya.

Tidak menggurui, ia hanya ingin kita melihat sesuatu hal dengan cara yang lain yang boleh kita pikirkan lagi apakah yang dia utarakan adalah benar atau tidak. “Dunia dimatamu adalah caramu memandang diri. Jika dunia penuh kebencian dan musuh ada dimana-mana, sesungguhnya itu adalah produk dari hatimu yang dibalut kebencian. Jika kau kira dunia penuh orang egois, itu tak lain adalah bayangan dari egoisme egomu sendiri. Dunia yang muram berasal dari hati yang muram. Sedangkan kalau dunia dimatamu selalu tersenyum ramah, berterimakasihlah pada hatimu yang diliputi cinta.”

Novel ini dimulai bukan dari negara pertama tempat dia melangkah kaki, memulai perjalanan, melainkan dimulai dari tempat dimana dia pulang, dengan alasan seseorang yang dia cintai, Mama. Penyakit yang diderita oleh Mamanya membuat Agustinus memilih memutar haluan, mematahkan mimpinya, bertoleransi antara mimpi-mimpinya dan Mamanya yang terkulai lemah di ranjang rumah sakit. Tentu saja pergulatan batin yang tidak main-main dirasakannya, mimpi-mimpinya akan ambruk dalam semalam seandainya dia harus memutar haluan untuk pulang, tapi Agustinus tahu jelas rumah adalah dimana senyum Mamanya berada.

Orang-orang baru, kultur baru, bahasa, perang antar saudara, kebiasaan, sakit hepatitis, keluhan-keluhan perihal sanitasi, karakter-karakter baru yang menjadi pengalaman berharga dan semua yang dia lalui selama perjalanan adalah pengalaman yang tak ternilai bagi Agustinus. Bagaikan jodoh, Lam Li seorang teman dari Malaysia yang ia temui dalam perjalanan pun turut memberikan warna tersendiri bagi perjalanan seorang Agustinus. Lam Li hadir sebagai guru untuk seorang Agustinus. Agustinus jelas-jelas mengajak saya melihat arti sebuah perjalanan dari sudut pandang yang berbeda. Agustinus menyediakan bab-bab penuh kejutan, beberapa diantaranya adalah tentang bagaimana adat tentang memperlakukan seorang perempuan, tentang agama, tentang perang.

Selama membaca buku ini, saya berharap Mama Agustinus sehat-sehat saja namun saya harus menitikkan airmata kala Mamanya akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. Saya pikir, Agustinus cukup berani dalam mengisahkan perjalanan ini kepada Mamanya, kepada saya, kepada pembacanya. Ini terlalu pribadi untuk diceritakan namun terlalu sayang untuk disimpan sebagai kenangan bagi diri sendiri. Barangkali Agustinus ingin kita kembali melihat kedalam diri kita anak seperti apa kita ini.

Setiap akhir fragmen, pembaca akan mendapati tulisan yang bertulis miring, Agustinus kembali memutar imajinasi pembacanya ke kamar rumah sakit, ke kampung halamannya, ke sosok Ayahnya dan lebih-lebih ke sosok Mamanya. Selanjutkan dimulai lagi dengan cerita perjalanannya, seakan-akan Agustinus sedang bercerita kepada Mamanya kala Mamanya terbaring di ranjang rumah sakit.

Agustinus memupus mimpi, kembali ke titik nol, dirinya harus pulang. Dia yakin setiap kita haruslah kembali setelah melakukan perjalanan jauh. “Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang.”

Buku ini cukup berat dan hangat. Pastilah susah membuka diri untuk orang banyak. Mengizinkan orang lain untuk mengetahui kisahnya, kisah kehilangan salahsatunya. Menulis kisah ini berarti memutar kembali cerita kehilangan seorang sosok yang dicintai, Mama. Diakhir buku, Agustinus menyertai surat untuk Mamanya, pilu saya membacanya. Persoalan kehilangan memang tidak pernah main-main. Tapi untuk segalanya, terimakasih Agustinus Wibowo yang telah mengajak saya keliling Tibet, Nepal, India, Pakistan, Kashmir dan Afghanistan. Meminjamkan panca inderanya untuk saya merasakan duduk di kereta 18 jam lebih, sakit Hepatitis, makan makanan yang itu-itu saja, berbaur dengan teman-teman baru, warga lokal, kerumitan berurusan visa dan tetek bengeknya perjalanan. Saya merasakannya melalui Agustinus yang baik hati. Terimakasih telah mengenalkan genre travel writing ini kepada saya. Agustinus membuat saya jatuh cinta dengan 552 halaman yang saya lahap habis. Agustinus memberikan pengalaman membaca yang berbeda kepada saya. Begitu hangat, personal, menyentuh, menjengkelkan, dan menyenangkan.

-yuniar sakinah-

*usahamereviewnovelfavorit*








Mencoba Menahan Diri

Monday, 22 May 2017
Hati ini sayang mengatakan kau satu-satunya yang bertahta di istanaku
Kau adalah aroma tubuh yang ingin kuhirup kala membuka mata
Kubayangkan aroma tubuhmu dan sinar matahari pagi beradu mesra menyambut pagiku
Sayang, kau bertahta

Pada hatimu, kulabuhkan segala rasa
Telah kuletakkan kau di sudut hati paling dalam yang tak mampu dijamah oleh siapapun
Kau segala yang kumau

Namun...
Apalah kita ini yang hanya manusia biasa?
Berencana adalah konsep kita tentang menjalani hidup
Sedang jawabNya adalah kepastian yg mutlak diterima oleh kita

Satu satu aku merindu
Semua tentangmu, menenangkanku
Namun tanpa ragamu sayang, kenanganmu saja yang menemani
Aku belajar menahan diri

Sayang, kita ini...
Kita adalah bait-bait puisi yang terpaksa menuju baris akhir
Tapi kan tetap ku tulis tentangmu
Karena hanya di kata-kataku, kau abadi.

UPG, 22 Mei, 9.44 PM

Teruntuk @PosCinta

Tuesday, 14 February 2017

Ternyata tahun ini sudah 7 tahun program #30Harimenulissuratcinta berlangsung. Program yang hadir di bulan februari tiap tahunnya ini sungguh menyenangkan. Tahun ini karena berkabung, program ini menjadi #PosCintaTribu7e .
Ketika itu, twitter menjadi salahsatu social media yang paling diminati, nge-tweet apa saja sungguh menyenangkan. Dan dari twitter lah, saya tahu kalau program ini sedang berlangsung.

Teruntuk @PosCinta, program ini sungguh menyenangkan. Awal mengikuti program ini tahun 2014 lalu, selama 30 hari saya menulis surat untuk siapapun, dimanapun dan tentang apapun. Saya pernah menulis surat untuk hewan peliharaan saya yang telah mati, sungguh membuka kembali memori indah. Surat-surat cinta yang kutulis boleh dibilang sebagai pengingat kembali kenangan-kenangan yang saya miliki. Tak sering saya pun menulis surat cinta sebagai hadiah ulangtahun beberapa sahabat saya.

@PosCinta, sampai sekarang saya tidak tahu Bosse itu sebenarnya siapa. Saya penasaran. Tapi saya cukup senang. Bosse sering meng-tweet surat cinta saya "Kriiing! Pos! Pos!" adalah yang paling saya nanti dari Bosse. Saya tidak tahu founder dan Bosse nya siapa, pun dengan akun pribadi twitter mereka, tapi saya yakin Bosse orang yang menyenangkan. Sekalinya saya tahu salahsatu founder malah disaat beliau sudah berpulang.

Teruntuk @PosCinta, terimakasih untuk program menyenangkan dan penuh cinta ini. Saya berterimakasih karena melalui program ini, saya bisa kembali produktif dan konsisten dalam menulis serta membagi cinta untuk siapa saya, benda atau hewan sekalipun, dan juga membuat saya selalu bernostalgia dengan cerita-cerita bahagia maupun sedih yang saya alami melalui menulis. Blog pribadi saya pun terisi dengan tulisan-tulisan penuh cinta dari saya. Sungguh menyenangkan pula disaat banyak sekali kesibukan tapi harus berburu dengan batas pengiriman surat, bila tidak menulis, saya kepikiran sekali. Merasa gagal dan tidak konsisten, makanya sesibuk apapun saya sempatkan menulis.

Teruntuk @PosCinta, terimakasih selama 7 tahun ini mengantarkan cinta untuk semua orang. Semoga program ini terus berlanjut. Semoga founder Om Em damai disisi-Nya, Bosse dan tukang pos semuanya berbahagia dan semoga kita semua selalu dikelilingi cinta. Panjang umur @PosCinta, Bosse, para tulang pos dan kita semua.

Day #7