Pak Sampar, Guru Kehidupan dari Kota Anging Mamiri

Sunday, 2 December 2012

Bermula dari tugas yang diberikan oleh Dosen matakuliah Pengantar Fotografi di semester empat yang lalu itulah, saya mendapat satu pelajaran berharga. Sebelumnya, awal saya merantau di kota berjulukan ‘Anging Mamiri’ ini, saya merasa kota ini sangat membosankan. Sungguh, itu yang saya rasakan, itu semua karena saya merasa sarana transportasinya yang sangat membuat saya kerap kali harus menahan emosi, belum lagi orang-orangnya yang membuat saya merasa jengkel, dan masih banyak lagi.

Namun, di suatu siang saat selesai hunting di daerah Poutere tanpa sengaja saya bertemu dengan seorang tukang becak yang hari itu dari matanya saya merindukan Ayah saya. Tukang becak ini mengajarkan saya tentang satu hal dalam hidup. Inilah penggalan ceritanya..

Pak Sampar, lelaki tua berumur 50 tahun lebih ini saya temui saat perjalanan dari Poutere menuju Klenteng. Siang itu, ketika saya sedang meneguk air mineral yang saya bawa didalam tas, saya melihat seorang lelaki tua sedang mengelap roda becaknya dibawah pohon di tepi jalan raya. Saya pun segera memberikan aba-aba kepada tukang becak untuk segera berhenti. Saya pun menghampiri Pak Sampar yang tengah membersihkan roda  becaknya.

Saya menyapa beliau dan beliau membalas sapaan saya. Saya menemani beliau membersihkan roda becaknya sambil berbincang-bincang dengan beliau. Dari beliau, saya pun mengetahui kalau Pak Sampar ini memiliki 6 orang anak. Si sulung baru duduk di bangku kelas 3 SMP dan si bungsu duduk di kelas 1 SD. Pak Sampar tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil yang berada di sekitar daerah gelangan kapal. Setiap bulannya, beliau harus membayar uang kontrakan sebesar Rp.300.000.

Pak Sampar dulunya adalah seorang pelaut. Beliau melaut dengan teman-temannya di satu kapal ikan. Tapi, beliau merasa banyak sekali pembayaran sana-sini, uang makannya, uang bensinnya, dan masih banyak lagi yang semua itu menyebabkan beliau memilih untuk berhenti bekerja di kapal ikan itu. Tak mau menganggur, tukang becak menjadi pekerjaan beliau. Keluarga saya harus tetap makan, anak-anak saya harus tetap sekolah”, ucap Pak Sampar.

Percakapan saya dan Pak Sampar masih berlanjut. Dari penuturan beliau, saya pun mengetahui kalau sedari pagi tadi beliau baru mendapat satu penumpang saja. Tarif yang beliau minta sebanyak Rp. 8000,- namun ditawar oleh si penumpang menjadi Rp.5000,- padahal jarak yang ditempuh terbilang jauh. Setiap harinya Pak Sampar hanya bisa mendapat uang sebanyak Rp. 15.000,- itu pun dikurangi dengan uang makan siang beliau. Setiap siang beliau makan di warung kecil di pinggir jalan, nasi dan ikan adalah lauk makan siang beliau, “Nasi dan ikan saja, lima ribuan saja biar bisa pulang bawa uang yang banyak buat istri, jadi makan lima ribuan saja”, tutur beliau. Saya terharu melihat beliau dan mendengar cerita beliau. Sambil bercerita saya pun memijit pundak beliau, rasanya seperti memijit pundak Papa dan Kakek sendiri, satu per satu airmata saya mendesak keluar dari tempatnya, tapi saya mencoba menahannya. Jangan nangis, setidaknya tidak didepan beliau. 



”Hidup betul-betul susah, nak. Tapi saya tidak boleh mengeluh, kalau saya mengeluh, gimana nanti nasib istri dan anak-anak saya? Saya hanya ingin anak-anak saya bisa terus sekolah, nasib mereka lebih baik dari saya”, tutur Pak Sampar lembut.

Saya masih setia mendengar cerita beliau. Setiap kata yang keluar dari bibir beliau adalah pelajaran berharga bagi saya. Keinginan beliau sederhana saja. Hanya ingin anak-anaknya bisa terus sekolah dan nasib mereka lebih baik dibandingkan beliau. Dari kedua mata beliau terpanjar sebongkah keinginan yang besar, kulit keriputnya bukti bahwa beliau telah memasuki usia senja namun semangat beliau masih membara sebasah embun pagi.

Pundak dan tangan yang saya pijit pun, saya yakin dululah sangat tegap dan kekar. Kini ringkih namun semangat beliau masih membara. Tak ingin mengeluh, karena beliau harus mewujudkan keinginan sederhananya itu. Semoga Yang Maha Pencipta memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya.
Dari Pak Sampar saya belajar bahwa hidup tak selalu harus terlihat baik-baik saja. Dari beliau saya menyadari bahwa seorang Ayah mempunyai cara tersendiri untuk menyayangi dan membahagiakan anak-anaknya, saya menyadari bahwa dari keringat seorang Ayah lah, saya minum. Kegigihan dan semangat yang begitu tinggi, tak mengenal lelah, keinginan sederhana namun butuh pengorbanan dan jerih payah yang sangat luar biasa.
Dari Pak sampar inilah saya belajar tentang satu hal yang belum saya dapatkan sebelumnya, dan Makassar menjadi kota dengan pelajaran berharga bagi saya sendiri, satu per satu pandangan saya tentang Makassar berubah. Kota ini  menjadi tempat terindah bagi saya, tempat pembelajaran tentang banyak hal, tentang hidup, tentang mimpi.

3 comments:

  1. selamat nonaa
    smoga menjadi seorang JURNALIS yang baik,
    yang selalu berpegangan kepada kebenaran.*AMIN*

  1. Makasih, bbg bercee :)
    Aamin ya Rabb:)

  1. Ini tulisan yang bikin nangis dari semua tulisan yang ada. Tetap jadi penulis hebat say. Karya-karyamu luar biasa. :)

Post a Comment