Showing posts with label Barisan Puisi. Show all posts
Showing posts with label Barisan Puisi. Show all posts

BERJUMPA

Sunday, 25 August 2019
Rintik hujan sore hari
sepasang mata saling tatap
buru-buru lalu pergi
meninggalkan sebuah tanya

Sebuah pertanyaan mengambang
tak tahu arah, lalu lalang di pikiran
tak kuasa menahan
ia butuh jawaban
sayangnya keberaniannya nihil

Kemudian ditemani suara rintik hujan awal agustus
aroma asin air laut
lantunan musik merdu
Dua pasang mata itu saling jumpa
memberi jawab atas tanya

Dua pasang mata itu saling tatap
Lekat-lekat tak mau lepas
Malu-malu tapi tak mau berpaling
kemudian bertukar cerita
tawa menyeruak diantara cerita mereka

Aku melihat kalian
Jelaslah disana ada bahagia
Telah saling berjumpa dua orang yg aku atur pertemuannya
Ini waktu yang tepat, ujarku.

Saling berjumpalah kalian
dimiantara bahagia hari ini kelak kan ada sedih
tapi semoga kelak jemari kalian tetap bergenggaman
Cerita-cerita tetap saling kalian tukar
dengan begitu aku; semesta kan senang
Usahaku mempertemukan kalian bukanlah sebuah usaha yang sia-sia.

Ambon, 23/8/2019

Mengerti Menjadi

Monday, 13 June 2016
Ini adalah puisi hadiah ulangtahun dari senior, kakak, yang sangat saya idolakan. Kakak yang paling baik, dewasa dan mengerti apa yang dipikiran adiknya. Terimakasih kak Imam Ipaenin :))
*****
Mengerti Menjadi

Literasi waktumu yang menjadi domain bermakna antara hentak kaki pertama yang tak akan kau ingat simpul senyum bunda kala itu, adalah relung dan rona menjelma syukur dan asa, bahwa urat-urat yang menguatkan struktur tulang dan membantumu tertopang, kelak pasti kebahagiaan mereka.

Lampau yang kau lewat, nanti yang kau capai, kesemuanya harus bernilai bukan dengan angka melainkan bangga. Dan di beranda yang berisi huruf-huruf lugu, sirat surat yang kau rindu, dalam balut sampul warna bercampur merah biru, menjadi ungu, lalu dua puluh empat itu, pilihlah mengerti, agar menjadi.

- 10 Juni 2016

Senja Bulat Penuh Untuk 10 Junimu

Friday, 10 June 2016
Nah kalau ini postingan lama hadiah ulangtahun dari sahabat saya yang sama-sama mengagumi senja untuk 10 Juni saya. Ini tulisan favorit saya, teman saya ini menulisnya di blog pribadi miliknya Ayu
*****
Dear perempuan penggemar senja

Bersama surat ini kukirimkan senja bulat penuh, senja keemasan di ufuk tempat mata kita setia menunggu sebelum gelap. Hanya, maaf saja, tak ada angin dan debur ombak, seperti senja untuk Alina oleh Om Seno.

Oh iya, hampir saja kulupa. Bersama dengan Senja ini terhantur doa-doa tak terucap. Menjelma sederhana, menjelma cinta.Tak lupa, ada kebaikan di dalamnya. Silahkan kau rapal.

Sepaket Senja ini kukirim dalam perjalanan di atas jalan layang, menembus gedung-gedung pongah, beradu cepat dengan sibuknya mereka.Bukan dari tepi permadani maha kaya, tempat para nelayan mempertaruhkan cinta dan perahunya mengadu nasib.  

Kau pasti terkejut dengan kiriman ini.Aku memang tak kunjung khatam merapalmu, namun pasti kau akan menyukainya. Tak bermaksud membenci fajar, hanya saja bersiap menghadapi temaram dengan perbincangan hangat itu lebih sering kita lakukan. Mungkin benar, dalam banyak hal kita hanya butuh membiasakan.

Untuk miladmu, senja ini kumasukkan dalam amplop berwarna emas. Tak benar-benar berwarna emas sebetulnya, cahaya senjalah yang berpendar keluar. Kau mungkin tak punya banyak waktu untuk mendengar, jika lisanku yang menyapa. Maka lewat senja ini kuharap kau mampu merapal kata-kata yang tak sempat terucap, terlebih tertulis. 

Hanya saja, bergegaslah membuka amplop ini, saat bola waktu yang menggelinding telah menyampaikannya padamu. Seperti coklat panas yang nikmatnya berkurang saat dingin mulai membunuhnya.Senja inipun harus cepat-cepat menemui tujuannya. Karena esok hari, lain cerita. 

Saat kau buka, Negeri Senja adalah untukmu. Karena ini miladmu, aku mengalah. Kau pemiliknya sekarang. Tinggallah disana, tidak usah terlalu lama. Cukup kau habiskan 10 Junimu disana. 

Tenang saja, senja abadi disana. Itu sebabnya, kukirim ini sehari sebelum 10 Junimu menyapa. Syukurlah tak ada hujan bulan Juni sore ini untukmu. Iapun telah berjanji, tak akan menyapamu dalam dua hari ini. hanya untukmu. Setelahnya, kau pun bisa bersuka cita bersama sulaman rindu langit kepada tanah. 

Untukmu perempuan penggemar senja, perempuan dari Ambon yang selalu manis, si peramu kata, Semoga kebaikan dan keberkahan senantiasa menyertaimu. Terima kasih telah menjadi kawan setia menggagumi senja, membumikan senja-senja sebelumnya dengan cerita-cerita hangat. Seperti senja, sandikala, dan cakrawala, Semesta mengajarkan bahwa kawan kita butuhkan untuk menyadari kalau sendiri adalah indah yang belum sempurna.

Selamat menikmati.

Dari kawanmu yang juga mengagumi senja

Senja Hari Itu

Monday, 17 February 2014
Kutunggu kau di senja, hari itu
duduk manis di bangku taman
Dibawah pohon rindang
Angin di sore itu bertiup mesra

Aku menunggumu
sesekali menengok ke kiri kanan
mungkin kau akan muncul tiba-tiba
Pikirku begitu.

Kulihat sepasang anak kecil bermain layangan
riang, tawa mereka meramaikan senja hari itu
Layangan mereka saling berkejaran
sesekali suara teriakan mereka terdengar

Aku masih menunggumu
Senja itu, kamu berjanji menemuiku
aku penuh kesabaran menunggumu
Telepon genggamku tak berdering, sunyi

Kamu bilang akan menemuiku di senja ini
Aku menunggumu, masih duduk manis di bangku taman
Daun-daun sedikit berguguran
semburat senja hari itu indah, mesra
Aku menunggumu sampai senja tenggelam
bersembunyi di balik gunung, dan kau tak kunjung tiba

...Lantas Bagaimana Kita Bisa Bersama?

Saturday, 19 January 2013
Aku masih berdiri mematung disini
Melihatmu diam-diam dibalik pintu yang setengah terbuka
Kamu terlelap disampingnya
Sambil memegang erat tangannya
Saat itu, kulihat senyum itu
Senyum yang membuatku selalu tak bisa tidur sepanjang malam suntuk
Kamu tersenyum.. senyum itu...
Haruskah senyum itu yang kulihat
disaat bersamaan kudapati tanganmu tergenggam..
Bukan denganku.. tapi dia..
Dia yang terlelap cantik disampingmu.
Lantas bagaimana bisa kita bersama?

Di Suatu Malam

Monday, 14 January 2013
Malam ini...
Saat bulan terlihat mesra menggantung di kaki langit sana
Suara malam terdengar sayup-sayup diujung jalan sana
Aku berjanji...
Demi ribuan kata yang aku tumpahi disetiap kertas
Demi malam yang kudustakan
Demi rasa yang terendap pada satu titik
Demi dirimu yang tak tau bagaimana aku merindu
Demi dirimu yang pernah menjadi titik yang kulebur dalam tinta cinta
Demi Dia yang membuat aku melebur, menyatu dengan cinta ini
Aku berjanji...
Tak akan mengaharapkanmu
Aku akan melupakanmu
Semoga hidupku lebih baik setelah malam ini..


15.01.13 Ketika janji menggantung dilangit malam, dan hati bagai burung yang lepas dari sangkarnya

MENGANGKASALAH...

Thursday, 23 February 2012

 
Di ujung jalan ini ada yang menanti
Tak dapat dilihat, tapi dirasakan
Di penghujung nanti ada yang tak sabar
Ada yang siap untuk dijemput

Di penghujung
Bahagia akan kita raih
Sebuah sukses tergenggam sudah
Sebuah keharusan tlah terjalani

Saat ini ada yang memisahkan kita
Melangkah menyusuri setiap jalan masing-masing
Harapan dan impian membawa kita
Menjejaki dunia baru bersama orang baru

Saat ini ada rindu yang membuncah
Ada doa yang selalu teriring
Ada cinta disetiap sapaan
Ada kasih yang menyerbu

Jejakilah jalan ini
Nikmati setiap kotak peristiwa yg terjadi
Berpeganglah di bahu yang disampingmu
Aku akan menggenggammu dari jauh
Saat ini, hanya saat ini

Kita sedang mengangkasa
Sekarang waktunya mengangkasa
Ada sebongkah cita-cita yang kita lemparkan
Langit tak berujung
kepakkan sayapmu, sobat  
terkam semua mimpimu, mimpiku, mimpi kita
mengangkasalah

Kita akan bertemu nanti di tempat ini
Tempat yang menyatukan kita
Mengangkasalah, karena setelah ini
Ada cerita sukses di balik ini semua