Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

Diantara Jeda, Rindu Membuncah

Saturday, 31 August 2019



Sepanjang hidup, cintamu adalah penyembuh bahkan sebelum datang sakitku, senyummu adalah ketenangan bahkan sebelum datang risauku, pelukmu adalah pelindung bahkan sebelum datang bahaya, genggamanmu adalah penopang sebelum jatuhku.
......

Papa..
Keningmu, matamu, dan hidungmu yang kukecup dingin itu mematahkan hatiku berulang-ulang kali pa. Menggenggam tanganmu sembari melantunkan ayat-ayat suci, menyayat hatiku tiada henti. Melihatmu terbujur kaku pa, aku kalang kabut didera berbagai perasaan kacau balau, seketika semua kenangan satu persatu berlarian di kepalaku, betapa manis sayangmu, betapa tulus cintamu, betapa pedulinya dirimu, betapa khawatirnya dirimu bila anakmu ini jatuh sakit dan betapa besar penjagaanmu pa. Sejak hari pertama aku di dunia ini dan hari terakhir kau didunia ini, tak ada satupun luka yg kau torehkan di hati ini pa. Bahkan putri bungsumu ini tidak memiliki ingatan apapun perihal seperti apa ekspresi marahmu pa.

Papa, putrimu ini tidak siap pa. Putri bungsumu ini tidak memiliki persiapan apapun menghadapi keruntuhan dunianya siang itu, kepergianmu memadamkan semua cahaya dalam hidupku.

Papa..
Namun putrimu ini tahu dia harus ikhlas sejak hari itu. Tapi aku perlu waktu untuk menyesuaikan diri akan kenyataan bahwa tanganmu tak bisa lagi kugenggam, matamu tak bisa lagi kutatap lekat-lekat, keningmu, pipimu, hidungmu yang mancung tak bisa lagi kucium, rambut hitam nan halusmu tak bisa lagi kuacak, kakimu tak bisa lagi kupijat, dan kedua tanganmu tak bisa lagi kucium untuk meminta ridhomu pa.

Papa, siapa lagi yang akan menemaniku makan coto makassar favorit kita? Siapa lagi yang akan membaca shalawat nabi ketika aku sakit? Siapa lagi yang akan selalu menelponku untuk bangun subuh? Siapa lagi yang akan memastikan jendela kamarku terkunci rapat sebelum maghrib? Siapa lagi yang akan mengomeliku jika handuk yang kupakai setelah mandi hanya kuletakkan begitu saja diatas tempat tidur? Siapa lagi yang akan mengomeliku untuk semua kenakalanku? Siapa lagi yang akan meminta aku menceritakan cerita yang sama berulang kali dan selalu tersenyum mendengar semuanya itu? Siapa lagi yg akan selalu membacakan doa sambil memegang pundakku tiap kali aku akan keluar rumah? Siapa lagi yang akan selalu bilang "Papa bangga deng ade"? Siapa lagi pa?

Papa, anakmu ini tahu Allah Maha Pembuat Sebaik-baiknya Ketetapan, tapi Pa ketetapan ini sungguh sulit. Kehilanganmu ini sungguh membuangku di jurang paling dalam kehidupan. Sepanjang hidup anakmu ini akan disiksa oleh rasa rindu dan penyesalan yang menggerogotinya.

Memandikanmu tiap pagi, menyuapimu tiap makan, menemanimu sampai kau tertidur pulas, menggosokkan minyak kayu putih agar badanmu tetap hangat, bercanda denganmu,
bercerita denganmu walau respon yg kau beri hanya senyum, menemanimu berjuang melawan sakitmu, semoga semua itu papa adalah baktiku padamu bahkan kuyakin itu tak seberapa untuk bisa membalas kasihmu padaku selama ini. Sigapmu ketika aku harus ke toilet dengan menggunakan tongkat pasca kecelakaan, genggamanmu ketika aku menjerit kesakitan ketika kaki kiriku tak bisa digerakkan, sigapmu di kala sinusitis dan maagku kambuh, sigapmu membantuku mengatasi trauma berkepanjangan saat duduk di bangku SMA dulu, pesan singkat yang kau kirim selalu menyemangatiku "ade, juara 1 kah? Papa bangga nak", yang sigap ke sekolah ketika tahu anaknya pingsan karena tak kuat menahan dingin, yang kuat menahan kantuk menemani anaknya belajar atau sekedar menemaniku begadang menonton film kesukaanku.

Kini di kepalaku penuh dengan pertanyaan apakah aku sudah cukup banyak meluangkan waktu duduk bercerita denganmu? Seberapa sering aku menyuapimu? Seberapa sering aku menemanimu tidur, memerhatikan lekat2 setiap sudut wajahmu? Kemudian kenangan apa yang papa ingat tentang putrimu ini di saat-saat terakhirmu? Seberapa sering aku membuatmu marah dan kecewa tapi papa selalu tidak mengasariku dengan kata-kata dan perbuatan, bahkan aku tetap bisa menemukan senyummu disana.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuatku kacau pa.

Papa, putrimu ini rindu pa. Kelak siapa yang akan mengantarkanku menuju babak baru kehidupan saat hari dimana seorang pria baik mengguncangkan arsy-Nya dengan menyebut namaku pa? Siapa yang akan memberiku restu untuk hidup baru yang akan ku tapaki. Siapa yang akan memberikan tanggungjawab ke pundak pria pilihanku pa? Papa, putrimu ini rindu pa.

Aku mencintaimu papaku sayang, papaku yang penyabar, lelaki yang memiliki cinta paling tulus, lelaki yang mengusahakan segala yg terbaik untuk putri bungsunya sejak hari pertama putrinya di dunia sampai hari terakhir ia di dunia.

Bersama tulisan ini, aku sepenuhnya ikhlas untuk ketetapan-Nya, biarkan aku digerogoti rasa rindu yang membuncah tiap hari untuk lelaki terbaikku. Sementara jeda, biarkan doaku yang menenangkan rindu ini. Semoga kelak kita bertemu di Jannah-Nya, papa. Doaku selalu menggapaimu disana Pa.
Ade sayang papa, ade rindu papa, ade sayang papa, paling sayang papa.

Yang merindumu,
Putri bungsumu.


Ambon, 30 Agustus 2019

Anakmu Rindu, Pa

Tuesday, 30 July 2019
Seperih inikah luka yang ditinggalkan sebab kehilangan?
Semerana inikah sebab kehilangan?
Segila inikah kehilangan berulah?
Sesakit inikah merindukan seseorang?

Papa..
anakmu rindu pa
hanya 27 tahun waktu yang Tuhan beri untuk ia bisa bersamamu pa.
Anakmu ini egois pa
inginnya bertahun-tahun, 37, 47, 57 tahun pa
anakmu ini serakah

Papa..
anakmu rindu pa
Al-fatihah sudah ia lafalkan berkali-kali tiap kali merindukanmu
tapi tetap saja rindu pa

Papaku sayang
duhai papaku sayang
anakmu sungguh rindu pa
Ia masih ingin melihat senyummu
mengecup dahimu, pipimu
mengelus hidung mancungmu
melihatmu makan, tidur, tertawa

Papaku tercinta
anakmu rindu pa
harus bagaimana ia menghadapi kehilangan terberat ini?
harus bagaimana ia menghadapi hari2nya tanpamu pa?
kepada siapa dia harus bersandar ketika sandarannya telah tiada pa?

Papaku tercinta
anakmu rindu pa
ia menangis berkali2 utk luka perih di hatinya
ia tertatih membangun benteng pertahanannya pa
ia merasa belum mencintaimu dgn cara terbaiknya pa

Papaku yg kurindukan
anakmu rindu pa
anakmu rindu pa
anakmu rindu pa
Maka hanya Al-fatihah jembatan antara kita berdua kini
tapi pa, anakmu ini rindu pa.
ia tak sanggup menahan sakitnya merindu pa
anakmu rindu pa.

Luhu, 30 Juli 2019
11:12 pm

Papa

Monday, 23 April 2018
Sore ini saya mengingat semua yg pernah papa saya lakukan untuk saya. Saya mengingatnya satu persatu dan menemukan begitu banyak kebaikan papa kpd anaknya ini. Sedangkan saya? Kebaikanku pada papa msh jauh dari yang bisa dihitung. Tak ada apa-apanya. Satupun tak ada.

Papa adalah orang terbaik yang keberadaannya dalam hidup ini tidak akan pernah saya sesali sedikitpun. Papa adalah sosok ayah yang paling bisa mengontrol emosi didepan anak-anaknya, yang paling sabar, yang selalu berusaha mewujudkan semua keinginan anak-anaknya tercapai, semua kebutuhan anak-anaknya beliau terpenuhi walaupun seringkali harus sembunyi-sembunyi dari Ibu tapi Papa selalu mengusahakannya karena tidak mau mengecewakan putri-putrinya. Setiap kali saya menitipkan jajan ketika beliau sedang pergi, misalnya, papa akan berjalan ke arah samping rumah, memanggil namaku di bawah jendela kamar dan memberi sekantong jajan yang saya minta, dengan cara begitu ibu takkan memarahiku karena selalu saja jajan. Papa yang akan selalu mengirim pesan singkat menyemangatiku tiap kali saya akan mengikuti kegiatan dari jaman sekolah sampai kuliah dan tetap menjadi yg pertama memberikan selamat setiap kali saya berhasil menyelesaikan kegiatan, perlombaan dll. Saya akan menemukan "Papa bangga deng ade" di layar hp saya yang beberapa menit setelah itu akan kudengar suara papa diujung sana.

Papa adalah orang yang akan datang ketika mendapatkan kabar dari sekolah ketika anaknya ini pingsan karena cuaca terlalu dingin saat itu, Papa yang akan selalu menemani anak bungsunya ini belajar sampai malam atau menonton film kesukaan anaknya, walaupun terkadang Papa akan tidur duluan di kursi. Papa yang hampir setiap malam minggu akan mengajak saya pergi makan coto makassar atau es palu butung di daerah Masjid Jami' tempat langganan kita berdua. Papa yang selalu membelikan benda-benda lucu berwarna ungu atau membelikan alat tulis menulis yang lucu karena tahu betul anak bungsunya ini mengoleksi benda-benda seperti itu saat duduk di bangku sekolah dasar dulu.

Papa yang ketika saya sakit, akan selalu datang ke kamar melihat keadaanku, membaca shalawat dan mengelus daerah yang sakit. Siapa yg kotak obatnya paling lengkap? Siapa yg kalau anaknya sakit sedikit sudah buka kotak obat kasi minum obat panadol, bodrexyn, promag dan lain lain? Papa. Ya, Papa.

Papa yang ketika pertama kali saya jauh dari rumah, pertama kali saya melempar mimpi di kota orang beliau mengantar dengan wajah penuh senyum dan selalu mengingatkan untuk tetap jaga sholat dan makan. Papa yang bila saya telepon untuk meminta izin ke luar daerah, hal pertama yg beliau tanya adalah "Disana dingin nak?," karena beliau tahu betul bagaimana tubuh saya bereaksi berlebihan terhadap udara dingin.  Pertanyaan itu akan diikuti dengan seabrek list yg beliau ingatkan untuk bisa mengatasi kelemahan saya dalam menghadapi udara dingin.

Papa yang ketika saya kecelakaan dan kaki kiri saya tidak bisa digerakkan, yang saat itu harus dibantu dengan tongkat, Papa adalah orang yg menemani saya berobat bahkan ikut menangis ketika kaki kiri saya yang kaku itu dipijit dan saya berteriak kesakitan, tangan Papa yang saya genggam. Papa yang ketika saya ingin buang air besar tengah malam, saya hanya perlu menelpon sekali dua kali dering saja, beliau akan bangun dan berdiri di depan kamar menunggu saya keluar dan membantu saya berjalan menuju toilet dengan susah payah dan selalu bertanya dari luar "Ade bisa nak? Kaki bisa sayang?" saya akan menjawab bahwa bisa, tapi beliau akan kembali bertanya semenit sekali dengan pertanyaan yang sama.
Kesabaran beliau adalah perwujudan kata cinta dan kasih sayang yang jarang beliau ungkapkan, tapi terpancar begitu jelas dari setiap senyum, dari mata berbinar-binar ketika mendengar cerita anak-anaknya dan yg dengan sabar mendengar dan menghadapi keluh kesah anak-anaknya terutama saya.

Papa, yang selalu duduk di depan rumah menunggu saya pulang, yang selalu jago dan enak membuat colo-colo (sambal khas ambon, pakai lemon cina, tomat, cili dan bawang merah serta sedikit air) saat saya ingin makan. Papa yang selalu ke kamar menunggu saya bercerita tentang hari-hari saya, menunggu cerita-cerita saya tentang apapun itu walaupun sebelumnya sudah beliau dengar tapi beliau tetap meminta saya untuk menceritakan kembali dan selalu antusias dan senyum tiap kali mendengar saya bercerita. Begitulah pria yang bergelar Papa, kata pertama yg bisa saya sebut begitu mulut, lidah dan otak saya bekerjasama mengenal dan menangkap informasi di sekeliling saya.

Beberapa waktu ini Papa sakit. Saat pertama kali mengetahuinya, hati saya begitu sakit. Setibanya di rumah, saya melihat Papa saya berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya. Tak sekuat dulu, tapi tetap bisa menemukan senyum di wajahnya, tidak berkomunikasi seperti dulu tapi beliau tetap menyimak ketika saya berbicara, terkadang tak mengenaliku, tapi saya yang akan selalu mengingatkan beliau, tak apa. Jauh di alam pikirnya, saya tahu beliau mengenal saya lebih dari siapapun mengenal saya.

"Jangan sakit Pa", ingin rasanya saya berkata seperti itu tapi sakitpun adalah rejeki dari Sang Pemilik Kehidupan. Ketika saya mengantar beliau ke kamar tiap malam, Papa akan memandangku lama dan berkata "Maaf papa merepotkan unhy" atau "ini unhy toh? Papa pung anak." Buru-buru saya akan menyeka airmata yg sudah ada diujung pelupuk mata. Bagaimana bisa Papa bilang merepotkanku ketika anakmu ini yang terlebih dahulu sudah banyak merepotkanmu,  Papa? Sungguh sedikitpun menjagamu tidak ada arti apa-apa, tidak bisa membalas sedikitpun perhatian dan penjagaanmu selama ini Pa.

Maka, sehat-sehatlah Pa. Tak ada satupun orang di muka bumi ini yang paling anakmu mau kesehatannya kesembuhannya, selain dirimu, Pa. Sehat-sehatlah kedua surgaku, Papa dan Ibu. Sehat-sehatlah, sungguh Allah Maha Penyembuh, hanya padaNya semua ikhtiar kami untuk kesembuhan Papa, untuk kesehatan Ibu. Sakit datangnya dariNya, maka penawarnya dariNya jua.

Ade sayang Papa ❤

Yang selalu memohon kesembuhanmu dan mencintaimu, putri bungsumu.

To: My Dearest Aga

Sunday, 4 March 2018
Dear Aga,
cara Allah menjawab setiap doa siapa yang tahu? Jika bukan hari ini, besok. Jika bukan besok, lusa. Jika bukan lusa, minggu depan atau bulan depan atau tahun depan. Waktu baik menurut Allah, siapa yang bisa terka?

Sedihmu, lukamu hari ini tentu akan dibalas dengan bahagia di kemudian hari. Begitu caraNya menyayangi, kita bisa apa selain tetap berikhtiar.

Satu waktu baik tiba bagimu, lelaki paling baik yang Allah simpankan untukmu sedang menujumu dengan kepastian. Senyummu akan menjadi penghias langit cerah. Sepasang tangan akan mulai bergenggaman, dua hati akan mulai menyatu sampai kelak, kelak diguncangkannya Arsy', kelak malaikat-malaikat di langit turun menyaksikan sepasang hati mengikat janji suci. Maka sampai waktu itu, berbahagialah.

Selamat menerima hati yang baik, genggaman yg kelak akan menguatkan, akan menopang hidupmu selamanya. Selamat menuju waktu baikmu. Banyak cinta dan doa tulus dari adikmu ini untuk kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu hari ini, besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, selamanya, adikmu ini selalu mendoakannya. Maka, tak perlu khawatir, kau takkan kekurangan sedikitpun doa. Kau mengantongi banyak doa dariku, Aga.

Selamat kakakku, my one and only Aga, the best sister I've ever had. You know I love you even I ignore to tell you about that.
I can't imagine if you were not my sister, my world would not be perfect like this. You're more than the word "sister" for me. Am very very happy and blessed that I have you. From this time, happily ever for a long time 😚

With love and hugs,
your forever lil sister, Unhay 💜💜💜

Untuk Ibu, Selamat Hari Ibu

Monday, 22 December 2014
Ada yang bilang Hari Ibu itu setiap hari. Ucapan rasa sayang kepada Ibu setiap hari. Bukan saja di tanggal 22 Desember. Tidak salah. Hanya saja di tanggal 22 Desember terasa lebih istimewa bukan? Hari ini harimu Ibu. Nikmati saja kebahagiaan ini Bu.

Dari rahimmu, hidupku dimulai Bu. Darimu aku mengenal dan merasakan cinta sejati yang sebenar-benarnya, kemurnian cintamu Bu, tiada tandingannya didunia ini. Pengorbananmu, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang bisa menandingi besarnya pengorbananmu Bu, Aku berani bertaruh, tidak ada Bu.

Kesucian cintamu, kasihmu, sungguh suci. Tidak ada yang bisa menyamakan sucinya cintamu Bu. Tidak ada. Bahkan semua kata yang terucap dan tertulis untukmu takkan mampu menyampaikan betapa besar rasa terimakasihku untukmu Bu. Dunia takkan ada tanpamu Bu, hidup takkan sempurna tanpamu Bu. Aku berani bertaruh tidak ada satupun kehidupan seorang anak yang sempurna tanpa kasihmu Bu, tak ada.

Kamu.. Wanita mulia Bu. Kau diberi tanggungjawab besar, kepercayaan yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta. Surga diletakkan tepat dikakimu, mahkota kesucian dikepalamu, senyuman semanis susu di surga ada di wajahmu Bu, mata seindah bidadari surga kulihat dikedua matamu. Kau indah, sempurna, mulia Bu... Dari rahimmu, semuanya bermula.

Terimakasih karena mengajari banyak hal yang tak terduga dalam hidup Bu, pelajaran berharga datang dari wanita mulia berkerudung kesucian, bermahkota kemuliaan. Harapku, sehat selalu Bu.. Sang Pemilik Kehidupan senantiasa menjagamu, dimanapun langkahmu, kau selalu terjaga Bu.
Selamat Hari Ibu, Ny Dju Waliulu, S.Pd tersayang. Ibu terbaik sepanjang masa, kemurnian cintanya tidak tertandingi.

Untuk Ibu, Selamat Hari Ibu

Ada yang bilang Hari Ibu itu setiap hari. Ucapan rasa sayang kepada Ibu setiap hari. Bukan saja di tanggal 22 Desember. Tidak salah. Hanya saja di tanggal 22 Desember terasa lebih istimewa bukan? Hari ini harimu Ibu. Nikmati saja kebahagiaan ini Bu.

Dari rahimmu, hidupku dimulai Bu. Darimu aku mengenal dan merasakan cinta sejati yang sebenar-benarnya, kemurnian cintamu Bu, tiada tandingannya didunia ini. Pengorbananmu, tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang bisa menandingi besarnya pengorbananmu Bu, Aku berani bertaruh, tidak ada Bu.

Kesucian cintamu, kasihmu, sungguh suci. Tidak ada yang bisa menyamakan sucinya cintamu Bu. Tidak ada. Bahkan semua kata yang terucap dan tertulis untukmu takkan mampu menyampaikan betapa besar rasa terimakasihku untukmu Bu. Dunia takkan ada tanpamu Bu, hidup takkan sempurna tanpamu Bu. Aku berani bertaruh tidak ada satupun kehidupan seorang anak yang sempurna tanpa kasihmu Bu, tak ada.

Kamu.. Wanita mulia Bu. Kau diberi tanggungjawab besar, kepercayaan yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta. Surga diletakkan tepat dikakimu, mahkota kesucian dikepalamu, senyuman semanis susu di surga ada di wajahmu Bu, mata seindah bidadari surga kulihat dikedua matamu. Kau indah, sempurna, mulia Bu... Dari rahimmu, semuanya bermula.

Terimakasih karena mengajari banyak hal yang tak terduga dalam hidup Bu, pelajaran berharga datang dari wanita mulia berkerudung kesucian, bermahkota kemuliaan. Harapku, sehat selalu Bu.. Sang Pemilik Kehidupan senantiasa menjagamu, dimanapun langkahmu, kau selalu terjaga Bu.
Selamat Hari Ibu, Ny Dju Waliulu, S.Pd tersayang. Ibu terbaik sepanjang masa, kemurnian cintanya tidak tertandingi.

Lihat, Cara Allah Menyayangimu

Saturday, 15 February 2014
Dear @eghaRiska
Dalam hidup terkadang Maha Pencipta memberikan kejutan-kejutan kecil yang kita sendiri tak akan mengira sebelumnya. Kejutan itu bisa baik bisa buruk, bisa membuat hati bahagia bisa pula membuat hati mengiris. Selalu begitu, tak bisa terlalu dan selalu baik-baik saja, iya kan Ca Egha?

Bahagia terlalu banyak ternikmati. Wajar bila sekali Allah memberi sedikit tamparan. Bukan begitu, Ca Egha? Sekali lagi, ini hidup. Banyak hal yang membuat kita bisa jatuh, terpuruk, merasa mengapa hal-hal buruk terjadi dalam hidup yang dalam sepersekian detik terlihat baik-baik saja. Begitu cara Allah menyayangimu, Ca Egha. Begitu caranya. Emas yang berkualitas, emas yang bernilai tinggi, ditempa berulangkali, untuk mendapatkan emas yang murni, butuh kesabaran dalam mendulang emas tersebut. Kau pun begitu.

Jangan bersedih dengan apa yang telah menimpamu, jangan bersedih karena seseorang yang menyakitimu, cara Allah akan memberikan yang terbaik untuk hambaNya, siapa yang akan tahu? Airmatamu akan tergantikan dengan senyum bahagia, perih hatimu akan dibalut kembali dengan kasih sayang yang lebih suci dan tulus, Ca Egha. Tak perlu khwatir apapun itu. Tak perlu yang disesali, cukup bagimu orang-orang yang tetap menyayangimu dalam kondisi apapun itu. Lihat, betapa Allah menyayangimu. Dilimpahkan kepadamu orang-orang yang menyayangimu dengan cara mereka sendiri, termasuk adikmu ini. Tetap cantik, tetap tangguh. Empat pertama yang lain akan selalu menemanimu dalam doa yang tidak pernah habis melayang di udara, sampai kepada Allah dan dijabah. Tetap berkilau, Ca Egha.

Hidup memang tidak ada yang sempurna, tapi jelaslah akan selalu baik-baik saja selama bersyukur adalah hal yang tidak pernah berhenti. Keep shining, keep strong, you're beautiful from your heart, i love you, not much talking about it, but I love you.

Sincerely,
sister who always love you❤

10 Juni yang Ke-21 :*

Monday, 10 June 2013
10 juni, hari ini saya bertemu lagi dengan tanggal ini untuk yang ke-21 kalinya. Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memberikan begitu banyak berkah, rejeki, anugerah yang tidak henti-hentinya kepada saya. Alhamdulillah ya Allah

Hari ini, semesta begitu mengakrabi saya dengan caranya sendiri. Hari ini semesta menunjukkan kasih sayangnya kepada saya. Saya dihujani beribu doa-doa baik dari keluarga, teman, dan sahabat-sahabat yang tulus mendoakan saya. J Terimakasih untuk semesta dan terimakasih tuk orang-orang baik yang telah diberikan oleh Allah untuk menyayangi dan disayangi oleh saya :*

10 juni yang ke-21 ini apa yang bisa saya katakan lagi? banyak hal suka dan duka yang telah saya alami dalam hidup selama 21 tahun ini, mulai dari krisis ekonomi keluarga yang memburuk kala kerusuhan 1999 silam di Ambon, harus pindah sekolah dari sekolah favorit ke sekolah yang bahkan saya tidak pernah dengar nama sekolah dan lokasinya sama sekali, yang pada hari pertama saya sekolah, saya harus berjalan dengan hati-hati karena sekolaah itu sungguh diluar keinginan saya kala itu. Namun, satu yang saya syukuri tanpa habis sampai sekarang adalah ‘kepindahan’ itu sendiri. Karena di sekolah itulah saya menemukan sahabat-sahabat terbaik yang sampai detik ini masih berjalan bergenggaman erat dengan saya. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini.Sampai ke beberapa masalah dengan sahabat, masalah di Pramuka, masalah di sekolah, masalah di kampus hampir sudah singgah menjadi satu cerita dalam hidup saya selama 21 tahun ini.

Ini yang ke-21 kalinya saya terberkati hidup di dunia ini, Allah begitu baik dan mulia telah memberikan orang-orang terbaik dan terhebat dalam hidup saya. Papa, Ibu, Ca Indha, Ca ebhy, ca eyha dan ca egha, keluarga yang begitu hebat, syukur yang tak berkesudahan terlahir menjadi bagian dari keluarga ini. Cinta, kasih sayang, kebersamaan, pengertian, perhatian, kekuatan, doa, mimpi..semua saya dapatkan dari keluarga saya ini :*

Terimakasih special saya ucapkan kepada sahabat, saudara saya Rahmah, Ria, Yayu, Jayanti, Jaquiline, dan Tiwi yang telah menjadi sahabat terbaik dan saudara terbaik di tanah rantau ini. Terimakasih untuk segala doa, dukungan, pengertian, perhatian, kerjasama, dan segala cerita dan mimpi yang berhasil kita tukar selama 3 tahun belakangan ini, semoga apa yang menjadi cita-cita kita terwujud. Terimakasih karena tak pernah lelah menjadi sahabat dan saudara bagi saya, dan terimakasih telah menerima dan berusaha memaklumi segala kekurangan saya. Kalian luar biasa *alaAriel* hahaha :D

Sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa yang telah banyak memberikan pelajaran2 berharga dalam hidup saya, sahabat-sahabat yang masih tetap setia berdiri disamping saya, berangkulan..bergenggaman bersama dengan saya. Sahabat yang selalu membantu saya dalam setiap kondisi, bahkan ketika saya dalam kondisi terburuk sekalipun, tangan, pundak dan senyum mereka selalu yang menguatkan, doa mereka selalu dihujani kepada saya. Berkat Allah yang paling terindah.

Sekali lagi, terimakasih kepada Allah SWT yang penuh cinta kepada saya, terimakasih kepada semesta yang telah bekerjasama membuat pertemuan-pertemuan indah dengan orang-orang terbaik dalam hidup saya, terimakasih untuk segala doa yang tercurah hari ini untuk saya, biar Allah menjabah segala doa baik dan orang-orang behati baik yang saya miliki dalam hidup ini. J

1:47PM, 10 Juni 2013 “21 yang penuh berkah” 

8 April....

Monday, 8 April 2013
Makassar diguyur hujan. Angin, suara petir yg terdengar sesekali, saya yakin akan dilanda banjir lagi nanti, setidaknya di beberapa titik jalan di Makassar akan digenangi air.

Hari ini senin, saya tak kuliah. Bukannya malas, tapi memang saya tak ada jadwal kuliah di hari senin. Semalam saya nginap di kosan sahabat saya, ada sedikit masalah yg menimpanya sehingga saya harus datang di kosannya.

Hari ini senin, tepat tanggal 8 di bulan keempat ini. Hari ini terasa biasa saja untuk orang lain, tapi untuk satu perempuan anggun, hari ini adalah hari istimewanya. Yup, hari ini tepat hari ulangtahunnya. Tgl 8 April jatuh tepat di hari senin, hari pertama dalam seminggu, doaku tak muluk-muluk, hanya semoga dalam umurnya yg sekarang, kakakku ini bisa kembali mengawali kehidupannya yg cerah, memulai segala hal yg diinginkan dlm hidup dengan cara terbaik.

Caca.. Semoga usia ini caca terlahir kembali menjadi pribadi yg lebih baik, lebih bijak dalam melihat segala masalah yg ada, lebih hebat lagi. Semoga Allah tak putus-putusnya melimpahkan cinta-Nya ke Caca, begitupun Caca kepadaNya. Doa terbaik dan tertulus untuk Caca di hari ini..dan selamanya.. 



8 April 2013, untuk Caca Indha di hari istimewanya :*

Untuk Ca Ebhy.. Sabar, Sayang...

Tuesday, 2 April 2013

Saya masih ingat bagaimana senangnya saya hari itu saat mendapatkan kabar bahagia kalau kakak tersayang saya, Ca Ebhy tengah mengandung sekarang. Bagaimana tidak, saya akan menjadi tante dan mempunyai tambahan keponakan yang pastinya lucu lagi. saya sudah bayangkan bagaimana saya akan bermain dengannya bila saya pulang ke rumah nanti. Saya sangat berbahagia untuk kebahagiaan kakak tercinta saya. Seringkali saya selalu menanyakan kabar kakak dan calon keponakan dikandungannya melalui kakak ipar saya, rasanya bahagia saat mengetahui kakak dan anak yang tengah dikandungnya sehat-sehat saja. Alhamdulillah.

Namun, hari itu tepat tanggal 19 Maret lalu saat saya bangun tidur saya mendapatkan kabar dari keluarga kalau keponakan saya telah meninggal dunia didalam rahim Ibundanya. Saya sedih, saya tak sanggup mengumpulkan kata-kata saat itu, saya bayangkan betapa sedihnya kakak saya, Ca Ebhy. Saya tahu kakak saya ini sangatlah kuat, namun kehilangan seorang anak yang belum disentuh, yang belum sempat kau dengar tangisannya, rengekannya, senyumnya, matanya, bibirnya, tangannya, itu bukanlah sesuatu yang mudah tuk dilalui. Saya bayangkan wajah kakak saya.

Saat itu saya tak menelpon bahkan tak mengirim pesan singkat untuk kakak saya, saya tak tahu bagaimana harus merangkai kata untuk dia. Saya bingung, barulah 2 hari setelah mendengar kabar itu, saya memberanikan diri untuk menelponnya, memberikan semangat, menguatkannya. Saya menelpon kakak saya, suaranya terdengar tenang, seperti tak terjadi apa-apa, memang kakak saya perempuan yang kuat dan tegar
.
Ca Ebhy...
tetap sabar, tawakallah.. ini adalah cara keputusan Allah yang paling baik, kita tak pernah tahu apa takdir seperti apa yang telah Allah tuliskan untuk kita, untukmu kakak.. Cuma sabar yang bisa saya bilang, Allah lebih tahu keputusan yang terbaik untuk umat-Nya. Biarkan anakmu itu menjadi tabungan untukmu di surga kelak, si abang (panggilan dari kakakku untuk anaknya) sekarang lebih bahagia disana, di surga-Nya. 

Ca Ebhy...
jangan sering-sering nangis lagi yaa. Saya tidak melihatmu menangis, tapi membaca beberapa postinganmu tentang si abang, saya yakin kamu menulisnya dengan berurai airmata, sayang.. Jangan nangis lagi, si abang di surga pasti tidak suka melihat ummi nya menangis. Abang tetap hidup dihatimu. Saya bisa bayangkan bagaimana rindu yang merajaimu, rindu itu menikammu, belum sempat kau menggendongnya, mengaji di sampingnya, meninabobokannya, menyusuinya, menenangkannya kala dia menangis, tapi Ca Ebhy ikhlaskanlah.. Pasti Ca Ebhy dan abang akan ketemu disana..di surga. 

Ca ebhy...
Sekali lagi tetap sabar. Tangan Allah sedang memeluk si abang sekarang, bayangkan si abang tengah asyik berlari-lari di taman surga-Nya, bayangkan si abang memakai baju putih bersih, wajahnya putih bersih, tersenyum tampan. Dia akan selalu menjadi tabungan untukmu, Ca Ebhy. Sabar yaa, pantaskan lagi dirimu untuk rejeki Allah selanjutnya. Allah selalu memiliki rencana kedua,..ketiga..keempat...untuk umat-Nya dan tentu saja untukmu, kakakku.

02 Maret 2013. Banyak doa dan cinta untuk Ca Ebhy :*

Aku Sebut Keluarga

Friday, 1 February 2013

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Selalu begitu dan akan selalu begitu. Hari ini hari terakhir nganotr di PT. Biringkassi Raya Kantor Pusat PT. Semen Tonasa, Pangkep, Sulawesi Selatan. Perpisahan ini sangat berat untuk saya pribadi. Selama sebulan lebih disini, banyak pengalaman dan cerita indah yang terjadi. Mulai dari kosan kebanjiran, kegilaan selama di kantor, ibu dan bapak kos yang baik hati, pasar malam yang playlist lagunya bermacam-macam, mulai dari dangdut, keroncong, bugis, pop, R n’ B, dll, orang-orang di kantor, semuanya sangatlah berbekas.

Suasana di ruangan yang sangat mengasyikan, bapak-bapak dan ibu-ibu yang sangat bersahabat dengan saya dan kedua orang teman saya. Kami disambut seperti keluarga sendiri. Seru-seruan selama di ruangan, mulai dari nonton X-Factor bareng di kantor, foto-foto, ngegosip sama bos, sharing segala hal, ah banyak sekali hal seru yang saya alami selama ngantor di PT. Biringkassi Raya. 
Narsis! :D

10 Desember 2012. Banyak Doa Untukmu, Papa

Monday, 10 December 2012

Ini senin yang cerah
Ini tanggal 10 di bulan desember
Bulan penutup tahun
Dan hari ini usiamu bertambah senja

Kamu tahu, Pria sejatiku...
Ini waktunya kita berada di musim penghujan, Pa
Dingin disini, dan pasti di tempatmu juga hujan dan dingin
Disini Pa, hujannya deras sekali
Apalagi kalau sudah sore hari, Pa..
Bagaimana disitu, Pa?

Pa, ini ulangtahunmu yang keberapa? 60 bukan?
bagaimana dirimu di usia yang sekarang, Pa?
Bagaimana hari-harimu disana, Pa?
Masih merokokkah?

Pria sejatiku...
20 tahun ini aku tumbuh di tanganmu
Jarang sekali tangan kekarmu memukuliku, mencubitku, mengasariku
Bahkan jarang aku mendengar kamu marah kepadaku, Pa
Apakah semua pria yang berjulukan Papa itu selalu begitu terhadap anaknya?
Ataukah hanya kamu Papa?
Aku seringkali bingung mengartikan diammu,
bingung mengartikan senyummu
tapi aku tak pernah bingung dengan caramu menyayangiku, Pa

Kamu Hanya Perlu Tahu, Bu

Sunday, 30 September 2012
Hey, Bu..
Liat, langitnya cerah hari ini
mataharinya bersahabat,
semesta damai hari ini

Bu...
Selamat ulangtahun yaaa...
Banyak hal yang menjadi doaku untukmu
namun, cukuplah itu hanya antara aku
dan si Pemilik Kemuliaan.

Bu...
kamu adalah jawaban dari segala kemuliaan
kamu adalah suara dari segala cinta kasih
kamu adalah wujud dari segala anugrah
mendapatimu sebagai seorang Ibu adalah
sebuah kemuliaan dan anugrah yang tak akan pernah 
habis terurai

Kamu hanya perlu tahu, Bu..
bahwa kadang cinta tak bisa diekspresikan dengan cara yg baik
bahwa perhatian tak bisa langsung dipertunjukkan didepan mata
bahwa tangis tak perlu bersuara
namun itu semua berwujud
hanya saja aku yang kadang susah untuk menunjukkannya
 untukmu..

Kamu hanya perlu tahu, Bu...
cinta seorang anak pada Ibunya tak akan pernah terjabarkan
tak akan pernah mendapatkan kata-kata yg tepat tuk menggambarkannya
namun begitulah seharusnya
karena cinta yang besar terletak pada hati yang besar

Selamat ulangtahun, Ibu
bahagiaku memilikimu
semoga 61,62,65,70,80, 85, dan seterusnya
berapapun umurmu
kita akan selalu bersama.

Aku dan Ayah: Janjiku Untuk si Pria Sejati, Ayah

Sunday, 22 April 2012

Malam itu di sebuah warung makan coto makassar, aku dan beberapa teman sedang menikmati hidangan coto makassar di sebuah meja panjang yang terdapat di dalam warung makan tersebut. Malam yang dingin, tanah masih basah dengan hujan yang turun sedari sore tadi. Dingin-dingin begini, memang cocoknya makanan-makanan yang berkuah dan panas yang menjadi pilihan santapan yang tepat.

Saat sedang menikmati cotoku, dua orang lelaki masuk dan langsung memilih duduk di meja panjang yang letaknya tepat dihadapan meja yang aku duduki. Sambil membuka bungkus ketupat, aku melihat kedua pria ini dengan seksama. Pria yang satu lebih tua daripada pria yang disebelahnya, pria itu memakai baju hangat dan peci kain di kepalanya, aku tebak itu pasti Ayah dari pria yang  duduk disebelahnya. Pria yang lainnya, jauh lebih muda dan pastilah ini anaknya, tebakku.

Beberapa menit menunggu, pesanan coto Ayah dan anak ini pun datang. Mereka mulai mencampur kecap, sambal, dan garam kedalam mangkuk coto mereka masing-masing dan mulai menyantapnya. Aku masih menikmati hidangan cotoku sambil memerhatikan mereka. Seketika pikiranku melayang ke beberapa tahun silam. Kedua pria ini mengingatkanku pada kebiasaanku dulu. Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar sampai awal masuk sekolah menengah pertama, aku selalu memiliki kesempatan untuk jalan dan makan bersama Ayahku. Hanya aku dan Ayahku. Bila Ayahku tak lembur kerja, bisa dipastikan hampir setiap minggunya, kami berdua selalu menyempatkan waktu untuk makan bersama di luar.

Kami berdua selalu menjajaki setiap warung hampir di setiap minggu, kami berdua memang senang berwisata kuliner, mencoba hampir semua makanan berkuah di setiap rumah makan yang ada di sekitar Kota Ambon. Namun, setelah tahun kedua duduk di bangku sekolah menengah pertama, rasanya aku dan Ayahku tak pernah lagi memiliki kesempatan seperti dulu. Bukan karena Ayahku, tapi lebih karena aku. Aku terlalu sibuk mencari jati diri, terlalu sibuk memperbanyak teman, terlalu sibuk bermain, sampai-sampai untuk berwisata kuliner dengan Ayahku seperti dulu menjadi sesuatu hal yang langka.

Dulu setiap diajak pergi sama Ayah, saya selalu tidak menolak. Tapi sejak memasuki tahun kedua di sekolah menengah pertama, mulai mengenal jatuh hati kepada lawan jenis dan sampai sekarang pun  aku selalu menolak untuk pergi bersamanya bila diajak. Entahlah apa yang dipikirkannya bila setiap kali aku menolak ajakannya. Mungkin dia pikir, gadis bungsunya telah asyik bermain dengan teman-teman sebayanya, atau gadis bungsunya kini sudah tidak lagi berselera dengan makanan berkuah atau bahkan ia pikir aku tidak mau lagi jalan bersamanya karena keriput dan uban mulai menjadi bagian dalam penampilannya. Entahlah, apa yang dipikirkan Ayahku. Ah, kenapa aku baru menyadari hal ini, aku terlalu egois. Terkadang keinginan kecil Ayahku ini pun tak bisa aku penuhi. Aku merasa menjadi gadis bungsunya yang egois dan sombong. Sepertinya satu per satu kebiasaanku bersama beliau pun hilang. Oh Ayah, maafkan putri bungsumu ini.

Melihat kedua pria ini duduk makan bersebelahan sambil menikmati makanannya, mengingatkan aku bersama Ayahku. Aku merindukan suasana seperti itu lagi bersama Ayahku. Entah kapan terakhirnya aku pergi makan dengan Ayahku seperti dulu lagi. Hanya kita berdua.

Aku pun berpikir, apakah Ayahku juga pernah memikirkan hal ini? Apakah Ayah pernah melihat kejadian ini dan merindukan  aku duduk disebelahnya sambil tertawa dan makan bersamanya? Ah, tiba-tiba aku begitu memikirkan Ayahku. Aku terlalu naif bergaul sampai melupakan Ayahku, terlalu naif mengisi masa remajaku bersama teman-teman, sampai-sampai aku melupakan pria sejati yang dari keringatnya aku minum. Ingin rasanya segera terbang dan memegang tangannya dan mengajak beliau pergi makan. Waktu takkan pernah bisa terulang, namun kesempatan selalu akan ada. Semoga Tuhan masih memberikanku banyak kesempatan dan waktu untukku dan Ayahku.

“Ayah... tunggu gadis bungsumu ini pulang. Kita akan kembali menjelajahi setiap rumah makan lagi. Menikmati makanan-makanan berkuah lagi. Kita berdua. Seperti dulu.” janjiku dalam hati.